Since few days ago i feel something wrong with you. I do not know i feel inside, i never think you are different. This night i thinking out loud in beautiful garden , reread your last message. What is the meaning of your word? Everyday is flat. Nothing special happened.
So, what do you think if we are in a long distance could have an intense comunication. We both have different daily activity. If i was there i will better than now. I really hope you to know, i trust with you. I never want you will trust me back. Listen to what i said, its enough :)
be my best please
this is the second
Sabtu, 24 November 2012
When all has happened
Jumat, 16 November 2012
Kesempatan itu akan datang jika Kau menghendakinya
Saat itu seorang perempuan datang kepadaku untuk menceritakan apa yang selama ini dia alami. Sungguh sangat lama kami tidak pernah bertemu. Aku sangat tidak sabar mendengar ceritanya.
Saat itu, 5tahun yang lalu. Ada pesan yang masuk ke HPnya dengan nomer yang tidak diketahui pemiliknya. Dari pesan yang entah sengaja atau tidak ia kirim membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Perkenalan tiga tahun lalu membuat mereka semakin dekat. Sungguh saat itu ia sangat tertarik dengan pria diseberang sana. Suatu hari, pria itu mengajak untuk makan bersama. Tentu saja ini adalah awal yang baik. Setiba di tempat itu, banyak yang orang yang mengelilingi disekitarnya. Sungguh aku tidak sanggup masuk di kelompok itu. Terlihat wanita dengan anak - anaknya, nenek yang duduk bersebelahan dengannya, adiknya dengan pakaian rapi menyambut orang yang datang. Begitulah kurang lebih gambaran situasinya. Tak ada keberanian yang cukup untuk ikut berkumpul bersama. Dengan segera melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempat itu. Keberanian seperti apa yang bisa dilakukan remaja SMA yang datang dengan masih mengenakan seragam putih abunya itu. Dengan cepat ia menuju parkiran dan pergi dari tempat itu. Banyak telepon darinya tak dihiraukan sama sekali.
Mungkin seperti itulah awal mereka berpisah, salah seorang tidak bisa menciptakan kesempatan.
Saat ini tepat 2 tahun mereka tidak pernah berkomunikasi, perempuan itu sudah memiliki seseorang yang selalu ada di dalam hari-harinya. Seseorang yang selalu mengatakan bahwa ia merindukannya. Namun perasaan itu, sungguh berbeda dengan perasaan yang dulu dirasakannya. Saat ini ia hanya membiarkan seseorang itu berada dalam harapan besar. Ia mulai belajar memahami dan mengertikan perasaan yang dirasakan. Namun sungguh, tak ada apapun yang ia rasakan. Hampa. Ingin sekali mengulang kejadian 2tahun lalu tersebut. Sesungguhnya untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal yang menyakitkan. Saat dia pergi, seseorang baru merasakan kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.
-Sunset bersama rosie -tereliye
Minggu, 04 November 2012
Setengahnya sudah kulewati :D
Hmm.. Gak terasa ujian minggu pertama udah dilewati. Materi kuliah selama ini hanya diujikan dalam waktu bbrapa jam saja. Sungguh tidak bisa dibandingkan perjuangannya.
Sepanjang hari ini, aku sangat merindukan orang tua yang ada di seberang sana. Mendengar betapa besar perjuangan beliau agar aku dapat bertahan disini. Sungguh sangat malu jika aku disini tidak melakukannya dengan maksimal pula.
Aku hanya bisa berharap mendapat yang terbaik atas perjuanganku untuk membalas semua kebaikanmu. :)
Senin, 01 Oktober 2012
Inilah suatu permulaan
Hari ini tepat diumumkannya Olimpiade Farmasi Panitia Daerah Bali untuk angkatan 2012. Sudah pasti hari ini ditetapkan "Formasi lengkap" skuad panda bali. Betapa kebanggaan yang sungguh berarti dapat berada disini, misi memperkenalkan Farmasi dan OlFar yang sejak dulu mungkin tak pernah terpikirkan.
Ingat dua bahkan tiga tahun lalu, saat itu aku masih berstatus peserta OlFar. Walau tak sempat mencicipi suasana semifinal hingga ke Surabaya kala itu. namun saat ini aku kembali datang sebagai panitia penyelenggara. Dengan penuh dukungan dan sumbangan sukarela yang datang dari rekan panda bali semua aku harap dapat menjadikan Selekda Bali terlaksana dengan baik.
Inilah skuad panda Bali OlFar 2013 :
Dari kiri : Yoga, aku, mona, ratih, diah, erlyn, anis. Sesungguhnya kita bersembilan dengan komang dan devi,namun mereka berhalangan hadir.
Sabtu, 22 September 2012
Thanks for everything,mom
Semenjak aku jauh darimu aku semakin memahami betapa berarti kehadiran sosok sepertimu. Teringat saat aku masih tinggal bersama bibi, dalam masa itu aku merasa seperti anak ayam yang baru mengetahui induknya. Aku selalu merasa bahwa bibi adalah induk dari ayam kecil lugu itu. Saat aku mulai masuk sekolah formal yaitu TK, sosokmu mungkin masih asing bagiku. Tak pernah ada orang yang berani memaksaku, hanya engkau lah yang bisa melakukannya. Ingat saat dirimu berkata bahwa aku siswi yang cerdas dibanding yang lain, namun engkau belum memberikan aku masuk SD walaupun saat itu mungkin aku diberi freepas agar langsung SD. Dirimu masih membiarkanku di masa aku seharusnya berada, masa bermain dan belajar sosialisasi. Hingga berakhirlah kenangan masa TK yang mengenalkan aku dengan banyak sahabat yang bertahan hingga saat ini.
Saat usia ku menginjak 6 tahun, aku didaftarkan di sekolah yang mungkin asing bagiku. Penuh jadwal yang teratur, tanpa mainan, dan teman2 yang sangat tidak teratur keadaannya. Dirimu dengan setia mengantar dan menjemputku ke sekolah selama 6 tahun.
Masa SMP, sungguh tak ada yang bisa kuingat dengan masa itu. Masa yang sungguh sangat datar-datar saja. Terlihat perbedaan strata sosial menjadikanku bukan siapa2 disana. Aku bangga dengan ayahku yang seorang guru matematika. Selalu hidup penuh syukur dan kesederhanaan. Tidak pernah aku merasa sungkan bahkan minder jika berada di sekeliling lingkungan anak2 pejabat dan konglomerat kelas atas. Dirimu sungguh berperan di setiap hariku. Setiap mengantar dan menjemputku dukungan dan semangat untuk bertahan selalu keluar dari ucapanmu hingga aku meraih salah satu siswa pintar di kelas (bintang kelas). Begitulah keadaanku hingga aku menginjak masa keremajaan.
Masa SMA pun datang, dirimu penuh kesabaran menghadapi aku yang masih labil saat itu.
Sekarang aku sudah masuk PTN, semua ini berkat doa dan restu darimu.
Betapa bersyukurnya diriku memiliki sosok sebaik dan sesempurna seperti dirimu, ibu. :)
Kamis, 13 September 2012
Antara kesetiaan dan kebodohan
Hari ini aku lalui hari dengan penuh kegiatan. Hingga suatu akhir dr kegiatan itu, aku dan orang - orang kembali pulang. Saat aku mulai berjalan menjauh dari tempat itu, terdengar suara seseorang memanggil namaku. Yak, dialah teman baru yang baru saja kukenal. "Tunggu Aku ya, barangku masih ada yang tertinggal" begitu kencang teriaknya. Oke, aku tunggu sekitar 15 menit. Diapun kembali dengan segera. Dan kami pun berjalan ke lapangan bersama. Belum jauh jarak dari tempat tadi kita bertemu dengan seseorang. Rupanya teman baruku.sangat akrab dengannya. Akhirnya aku menunggu mereka mengobrol. Setelah setengah jam aku menunggu, diapun berkata "Kamu jalan saja duluan! Aku masih ingin berbicara dengannya". Dalam hati aku berkata "Begitu setia aku menunggumu hingga kita menuju akhir yang sama. Tapi lihatlah apa yang aku dapatkan, berjalan sendirian hingga akhir. Niat baik ingin setia menunggunya, tapi.hasilnya kita yang dicampakkan". Terima kasih karena telah memberikan pengalaman yang berarti ya teman. Tanpamu aku tidak akan mengerti makna kesetiaan yang sesungguhnya.
Senin, 03 September 2012
new experience, Suramadu
2 september 2012,
Pagi itu aku bareng temen berencana bakal nganterin dia foto-foto di suramadu. Bukan ke Surabaya namanya kalau belum kesana #gitu sih kata orang. Oleh karena itu, selesai bersembahyang di Pura Kenjeran kita bakal pergi ke Suramadu. Berbekal Google Map yang ada di ponsel pintar milikku kita nekat pergi kesana. Mengingat temanku ini baru pertama ke Jawa, jadi sepanjang perjalanan kami berdua bagi tugas. Aku yang baru setahun di Surabaya akan mengendarai motor sedangkan temanku bertugas memberikan petunjuk jalan agar kita sampai di bawah Tol Suramadu. Maksudnya kami hanya berniat untuk foto saja, tanpa ingin menyebrang ke Madura. Dengan feeling yang cukup kuat, aku nekat sampai disana tanpa Peta Google. Beberapa km menuju gerbang tol akhirny aku mencari alamat jalan di bawah tol tersebut. Rupanya disana menunjukkan belok ke kiri sebelum Pintu Gerbang Tol Suramadu. Entah berapa jalan menuju belok ke kiri aku tanyakan pada temanku di belakang, "Apakah ini belok kiriny?"tanyaku. "Tentu saja bukan, disini menunjukkan belok kiri masih sangat jauh" begitu teriak temanku di belakang. Namun, ada papan di sebelah kanan menunjukkan bahwa kita akan memasuki Tol Suramadu. Temanku kembali berteriak, "Eh, kamu tau ga belok kirinya ternyata udah lewat di belakang." Nah lho, tanpa pikir panjang aku ikut mengantri di Gerbang Tol Suramadu, tak ada yang bisa dilakukan di tengah macetnya motor2 menuju Madura saat itu. "Apa kamu yakin bakal nyebrang ke Madura sana?"begitu temanku berteriak kembali. Dengan ketus ku jawab "Menurutmu apa yang bisa dilakukan perempuan pengendara motor yang sudah terlanjur masuk ke Jalan Tol yang super panjang ini? Apa di tengah laut ini kamu masih berpikir akan ada putar balik?". Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdoa, memohon agar diberi keselamatan, berharap agar angin yang berhembus di laut tidak kencang. Akhirnya dengan detakan jantung yang super cepat, aku mencoba memberanikan diri untuk melewati jembatan itu. Dari awal aku sudah ragu dengan tugas yang kami bagi. Aku sudah mengatakan bahwa tidak mudah memahami suatu hal tanpa kamu membiasakan diri terhadapnya. Begitu pula dengan ponsel kecil yang kumiliki. Namun akibat dari kepercayaan yang sangat tinggi itu, terbukti apa akibatnya. Nyawa dipertaruhkan. Dengan waktu tempuh sekitar 7-8 menit kita telah sampai di Madura. Tak mau kehilangan momen perjuangan mengarungi Tol Suramadu, aku meminta untuk difoto sebagai bukti bahwa aku telah melakukannya dengan baik. Tak mau lama-lama di Madura kami segera balik ke Surabaya dengan tangan hampa. Sepanjang perjalanan aku teringat dengan kata ibu sewaktu aku masih kelas 7SMP. "Nak, tidak ada di dunia ini orang bodoh. Yang ada hanyalah orang yang tidak mau berusaha untuk belajar." Beberapa kali aku peringatkan temanku."Lihatlah arah panah penunjuk arah disana, beritahu aku bilamana kita harus belok kiri maupun kanan." Sepanjang perjalanan hanya sedikit arah yang benar yang ditunjukkan hingga berakibat fatal pada akhirnya. Aku harus berjuang melawan trauma yang sering ku alami. Aku mempasrahkan semuanya pada Tuhan. Traumaku terhadap laut dan ketinggian seakan terus membayang sepanjang jalan menuju Madura. Hanya satu yang aku pikirkan kala itu, Ibu, Bagaimanakah perasaan beliau saat ini, aku telah melanggar apa yang beliau katakan untuk jangan bepergian ke suramadu dengan mengendarai motor sendiri. Sampai di Surabaya hanya rasa syukur yang dapat kuucap untuk semua yang telah memberikan aku "This New Amazing Experience"
Love you mom, since i had a college in Sby, i always remember what you say. You are really meant to me :)