Sabtu, 22 September 2012

Thanks for everything,mom

Semenjak aku jauh darimu aku semakin memahami betapa berarti kehadiran sosok sepertimu. Teringat saat aku masih tinggal bersama bibi, dalam masa itu aku merasa seperti anak ayam yang baru mengetahui induknya. Aku selalu merasa bahwa bibi adalah induk dari ayam kecil lugu itu. Saat aku mulai masuk sekolah formal yaitu TK, sosokmu mungkin masih asing bagiku. Tak pernah ada orang yang berani memaksaku, hanya engkau lah yang bisa melakukannya. Ingat saat dirimu berkata bahwa aku siswi yang cerdas dibanding yang lain, namun engkau belum memberikan aku masuk SD walaupun saat itu mungkin aku diberi freepas agar langsung SD. Dirimu masih membiarkanku di masa aku seharusnya berada, masa bermain dan belajar sosialisasi. Hingga berakhirlah kenangan masa TK yang mengenalkan aku dengan banyak sahabat yang bertahan hingga saat ini.
Saat usia ku menginjak 6 tahun, aku didaftarkan di sekolah yang mungkin asing bagiku. Penuh jadwal yang teratur, tanpa mainan, dan teman2 yang sangat tidak teratur keadaannya. Dirimu dengan setia mengantar dan menjemputku ke sekolah selama 6 tahun.
Masa SMP, sungguh tak ada yang bisa kuingat dengan masa itu. Masa yang sungguh sangat datar-datar saja. Terlihat perbedaan strata sosial menjadikanku bukan siapa2 disana. Aku bangga dengan ayahku yang seorang guru matematika. Selalu hidup penuh syukur dan kesederhanaan. Tidak pernah aku merasa sungkan bahkan minder jika berada di sekeliling lingkungan anak2 pejabat dan konglomerat kelas atas. Dirimu sungguh berperan di setiap hariku. Setiap mengantar dan menjemputku dukungan dan semangat untuk bertahan selalu keluar dari ucapanmu hingga aku meraih salah satu siswa pintar di kelas (bintang kelas).  Begitulah keadaanku hingga aku menginjak masa keremajaan.
Masa SMA pun datang, dirimu penuh kesabaran menghadapi aku yang masih labil saat itu.
Sekarang aku sudah masuk PTN, semua ini berkat doa dan restu darimu.
Betapa bersyukurnya diriku memiliki sosok sebaik dan sesempurna seperti dirimu, ibu. :)

Kamis, 13 September 2012

Antara kesetiaan dan kebodohan

Hari ini aku lalui hari dengan penuh kegiatan. Hingga suatu akhir dr kegiatan itu, aku dan orang - orang kembali pulang. Saat aku mulai berjalan menjauh dari tempat itu, terdengar suara seseorang memanggil namaku. Yak, dialah teman baru yang baru saja kukenal. "Tunggu Aku ya, barangku masih ada yang tertinggal" begitu kencang teriaknya. Oke, aku tunggu sekitar 15 menit. Diapun kembali dengan segera. Dan kami pun berjalan ke lapangan bersama. Belum jauh jarak dari tempat tadi kita bertemu dengan seseorang. Rupanya teman baruku.sangat akrab dengannya. Akhirnya aku menunggu mereka mengobrol. Setelah setengah jam aku menunggu, diapun berkata "Kamu jalan saja duluan! Aku masih ingin berbicara dengannya". Dalam hati aku berkata "Begitu setia aku menunggumu hingga kita menuju akhir yang sama. Tapi lihatlah apa yang aku dapatkan, berjalan sendirian hingga akhir. Niat baik ingin setia menunggunya, tapi.hasilnya kita yang dicampakkan". Terima kasih karena telah memberikan pengalaman yang berarti ya teman. Tanpamu aku tidak akan mengerti makna kesetiaan yang sesungguhnya.

Senin, 03 September 2012

new experience, Suramadu

2 september 2012,
Pagi itu aku bareng temen berencana bakal nganterin dia foto-foto di suramadu. Bukan ke Surabaya namanya kalau belum kesana #gitu sih kata orang. Oleh karena itu, selesai bersembahyang di Pura Kenjeran kita bakal pergi ke Suramadu. Berbekal Google Map yang ada di ponsel pintar milikku kita nekat pergi kesana. Mengingat temanku ini baru pertama ke Jawa, jadi sepanjang perjalanan kami berdua bagi tugas. Aku yang baru setahun di Surabaya akan mengendarai motor sedangkan temanku bertugas memberikan petunjuk jalan agar kita sampai di bawah Tol Suramadu. Maksudnya kami hanya berniat untuk foto saja, tanpa ingin menyebrang ke Madura. Dengan feeling yang cukup kuat, aku nekat sampai disana tanpa Peta Google. Beberapa km menuju gerbang tol akhirny aku mencari alamat jalan di bawah tol tersebut. Rupanya disana menunjukkan belok ke kiri sebelum Pintu Gerbang Tol Suramadu. Entah berapa jalan menuju belok ke kiri aku tanyakan pada temanku di belakang, "Apakah ini belok kiriny?"tanyaku. "Tentu saja bukan, disini menunjukkan belok kiri masih sangat jauh" begitu teriak temanku di belakang. Namun, ada papan di sebelah kanan menunjukkan bahwa kita akan memasuki Tol Suramadu. Temanku kembali berteriak, "Eh, kamu tau ga belok kirinya ternyata udah lewat di belakang." Nah lho, tanpa pikir panjang aku ikut mengantri di Gerbang Tol Suramadu, tak ada yang bisa dilakukan di tengah macetnya motor2 menuju Madura saat itu. "Apa kamu yakin bakal nyebrang ke Madura sana?"begitu temanku berteriak kembali. Dengan ketus ku jawab "Menurutmu apa yang bisa dilakukan perempuan pengendara motor yang sudah terlanjur masuk ke Jalan Tol yang super panjang ini? Apa di tengah laut ini kamu masih berpikir akan ada putar balik?". Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdoa, memohon agar diberi keselamatan, berharap agar angin yang berhembus di laut tidak kencang. Akhirnya dengan detakan jantung yang super cepat, aku mencoba memberanikan diri untuk melewati jembatan itu. Dari awal aku sudah ragu dengan tugas yang kami bagi. Aku sudah mengatakan bahwa tidak mudah memahami suatu hal tanpa kamu membiasakan diri terhadapnya. Begitu pula dengan ponsel kecil yang kumiliki. Namun akibat dari kepercayaan yang sangat tinggi itu, terbukti apa akibatnya. Nyawa dipertaruhkan. Dengan waktu tempuh sekitar 7-8 menit kita telah sampai di Madura. Tak mau kehilangan momen perjuangan mengarungi Tol Suramadu, aku meminta untuk difoto sebagai bukti bahwa aku telah melakukannya dengan baik. Tak mau lama-lama di Madura kami segera balik ke Surabaya dengan tangan hampa. Sepanjang perjalanan aku teringat dengan kata ibu sewaktu aku masih kelas 7SMP. "Nak, tidak ada di dunia ini orang bodoh. Yang ada hanyalah orang yang tidak mau berusaha untuk belajar." Beberapa kali aku peringatkan temanku."Lihatlah arah panah penunjuk arah disana, beritahu aku bilamana kita harus belok kiri maupun kanan." Sepanjang perjalanan hanya sedikit arah yang benar yang ditunjukkan hingga berakibat fatal pada akhirnya. Aku harus berjuang melawan trauma yang sering ku alami.  Aku mempasrahkan semuanya pada Tuhan. Traumaku terhadap laut dan ketinggian seakan terus membayang sepanjang jalan menuju Madura. Hanya satu yang aku pikirkan kala itu, Ibu, Bagaimanakah perasaan beliau saat ini, aku telah melanggar apa yang beliau katakan untuk jangan bepergian ke suramadu dengan mengendarai motor sendiri. Sampai di Surabaya hanya rasa syukur yang dapat kuucap untuk semua yang telah memberikan aku "This New Amazing Experience"
Love you mom, since i had a college in Sby, i always remember what you say. You are really meant to me :)