saat itu aku ingin sekali membantur kamu yang sedang kesusahan. Tidak tega melihat dirimu memikirkan semua permasalahan ini. Namun setiap ku ingin tahu apa yang mengganjal hatimu, kamu selalu bilang "tenang saja, semua pasti akan baik saja". Tak kusangka kamu menceritakan semuanya pada orang lain. Sedangkan aku sendiri yang sudah menganggapmu sebagai saudara tidak tahu apa - apa. Orang itu pun datang padaku dengan meminta tolong untuk mengerjakan suatu tugas. Disaat semua tugas telah selesai aku rtbaru mengetahui bahwa itu adalah perintah darimu. Kamu terlihat sangat berterima kasih pada orang itu, dimana aku masih berdiri tepat di sebelah orang itu. Saat itu kamu melihat padaku hanya sekilas tanpa memerhatikan sama sekali. Tampak sekarang kamu berjalan menjauh, aku dan dia mencoba mengikutimu dari belakang. Tak lama kamu kembali menoleh ke belakang dan berkata "sudah ku perkirakan kalau sampai aku memberikan tugas ini padamu tak akan ada penyelesaian terbaik seperti yang temanmu lakukan" sambil menunjuk ke arahku. Aku tidak tahu perasaan apa yang harus aku tunjukkan. Dengan kepala tertunduk aku mencoba melanjutkan jalan menuju keluar ruangan. Harusnya aku bahagia kalau tugas itu dapat diterima dengan baik. Tapi kenyataannya kamu menganggap yang mengerjakannya adalah dia. padahal aku yang mengerjakan semuanya.
Pernah terpikir, begitu bodohnya diriku sehingga semua orang nemanfaatkan kemampuanku. Bahkan hasilku tidak dianggap dan diakui bahwa hal itu adalah hasil kerja orang lain. Aku berharap suatu saat ada hal yang akan melihat baik pada diriku.
Beberapa hari setelah itu, kamu datang padaku dan mengatakan bahwa perasaanmu sudah lega. Dan kamu sangat kagum dengan tugas yang dia telah kerjakan. Bukan hanya dengan tugasnya, kamu juga semakin kagum dengan dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar